Dongeng Ceria: Jaga Tawa Anak-anak Aceh Tamiang di Tengah Bencana

Fahmi Wahyudi
Jan 01, 2026

Foto: dok. BNPB

KOSADATA - Di tengah rumah-rumah yang masih berdebu dan orang tua yang sibuk membersihkan sisa bencana, anak-anak di Aceh Tamiang berlarian di jalan. Mereka mengejar kendaraan yang melintas, tertawa tanpa menyadari risiko. Pemandangan itulah yang pertama kali mengusik Dena, relawan Dongeng Ceria, saat tiba di wilayah terdampak.

“Anak-anak berkeliaran tanpa pengawasan karena orang tuanya harus beres-beres rumah. Itu berbahaya, bisa tertabrak, bisa menghirup debu,” ujar Dena, saat ditemui di salah satu titik kegiatan, Kamis, 1 Januari 2026.

Dari kegelisahan itu lahirlah Program Zona Anak—ruang aman sementara bagi anak-anak pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Bukan sekadar tempat bermain, Zona Anak dirancang sebagai ruang belajar, pendampingan psikososial, sekaligus penyangga ketenangan bagi orang tua yang harus memulihkan kehidupan mereka dari nol.

Ruang Aman di Tengah Situasi Darurat

Zona Anak mengumpulkan anak-anak di satu lokasi yang aman dan terpantau. Di sana, mereka bermain, belajar, dan berinteraksi di bawah pendampingan relawan. Orang tua pun bisa bekerja tanpa rasa cemas.

Program ini dijalankan secara kolaboratif bersama berbagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap isu anak dan kebencanaan di Aceh. Di Mushola Al Hikmah, Kecamatan Karang Baru, misalnya, sekitar 100 anak berkumpul setiap hari.

Dena tak lupa menyebut peran warga sekitar. “Emak-emak dan masyarakat luar biasa. Mereka bantu masak, siapkan makanan. Anak-anak bisa ikut kegiatan dengan perut kenyang,” ujarnya.

Belajar, Bermain, dan Menata Harapan

Setiap titik Zona Anak menggunakan kurikulum kegiatan yang sama. Aktivitas dimulai pukul 14.00 WIB, selepas salat Zuhur dan makan siang. Anak-anak diajak memecah kekakuan lewat ice breaking, lalu berlanjut ke kegiatan motorik seperti menggambar, menulis, membuat cerita, hingga


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0