Foto: BPOLBF
KOSADATA - Di sebuah perbukitan di Kecamatan Alor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, tersimpan sebuah kampung yang seolah membekukan waktu. Namanya Desa Takpala, dihuni hanya oleh 13 kepala keluarga dari Suku Abui—suku terbesar di Kabupaten Alor.
Rumah-rumah panggung berbentuk piramida dengan atap ilalang berdiri rapat, ditopang kayu merah yang kokoh. Bangunan itu disebut Kolwat (rumah perempuan) dan Kanuarwat (rumah laki-laki).
Di sinilah denyut kehidupan sederhana berlangsung: membakar kayu di bulan Oktober, menanam di bulan Desember, menenun kain, hingga menyiapkan tarian sambutan untuk para tamu.
Untuk mencapainya, pengunjung harus menapaki 21 anak tangga batu. Begitu sampai di puncak, suara gong dan syair dalam bahasa Abui biasanya menyambut.
Wanita-wanita dengan pakaian adat berwarna tanah menari dalam lingkaran, sementara lelaki berteriak sambil menghunus perisai dan tombak. Sebuah ritual penyambutan yang hangat sekaligus magis.
Melansir dari berbagai sumber, Takpala bukan sekadar desa adat. Ia adalah cagar budaya yang dilindungi peraturan daerah Alor. Nama Takpala sendiri mengandung simbol: tak berarti “tak berbatas”, sedangkan pala berarti “kayu”—sebuah metafora tentang kayu pembatas kehidupan.
Kampung ini mulai dikenal dunia sejak 1973. Saat itu, seorang wisatawan Belanda memotret kehidupan “primitif” Suku Abui, lalu menerbitkannya dalam bentuk kalender di Eropa.
Publikasi itu membuat Takpala masuk radar wisatawan asing jauh sebelum populer di negeri sendiri. Baru pada 1980, desa ini mendapat perhatian nasional setelah meraih juara kedua lomba Desa Paling Tradisional Indonesia.
Kini, Takpala kerap dijadikan ikon wisata Alor. Para pelancong bisa menyewa pakaian adat lengkap dengan aksesoris kepala, gelang kaki, hingga kain tenun. Berpose di depan lopo, rumah melingkar khas Abui,
Comments 0