Fransiscus Go, Foto: Ist
Oleh: Fransiscus Go
Pemerhati Pendidikan dan Ketenagakerjaan
KOSADATA - Di era sekarang ini, hidup tidak pernah bisa dilepaskan dari urusan ekonomi. Bahkan secara lugas, manusia pada hakikatnya adalah makhluk ekonomi (homo eoconomicus). Karena itu maka sendi-sendi hidup individu—demikian juga otomatis kelompok masyarakat—disokong oleh faktor-faktor ekonomi.
Geliat sosial masyarakat ditentukan oleh perputaran barang, jasa dan modal yang ada di wilayah tersebut. Hal ini berlaku pula untuk konteks Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai ranah hidup bagi 5,33 juta jiwa, atau 1,5 persen penduduk Indonesia.
Potensi NTT
Tidak kurang potensi yang ada di NTT, baik modal alam maupun manusianya. Wilayah timur Indonesia tersebut dikelilingi oleh lautan dan selat dengan aneka hasilnya yang bisa dimanfaatkan. Tanaman produksi yang berkualitas unggul juga bisa tumbuh subur di NTT semisal vanila, cengkeh dan jagung. Estetika alam dan budaya juga tidak kurang kaya dan beragamnya di seantero wilayahnya.
Flobamora (Flores, Sumba, Timor dan Alor)—demikian akronim termasyur dari empat pulau utama wilayah NTT—sesungguhnya ibarat permata indah dari timur yang selain dijaga, bisa juga dioptimalkan untuk menyejahterakan penduduknya.
Bukit Pelangi di Kelabba Madja Kabupaten Sabu Raijua, pasir pantai Oetune yang bak gurun Sahara, gugus Pulau Seribu Maumere bersama kekayaan biota lautnya, warisan budaya Maumere Kota Seribu Tenun Ikat di sanggar seni-budaya Bliran Sina dan Lepo Lorun, cakrawala di Bukit Liaga Kota Baru, kampung Wolobobo di atas awan, situs megalitikum Rumah Adat Bena dan masih banyak kekayaan lain untuk menyebutkan bahwa NTT merupakan surga yang menawan untuk didiami dan didatangi.
Akan tetapi dalam kenyataan, justru masih ada dilema dalam masyarakat tentang
Comments 0