Foto: ist
Kendala lain datang dari sisi pembangunan infrastruktur. Ibnu menuturkan ekspansi jaringan tersendat oleh tingginya biaya investasi serta proses perizinan yang berlapis, terutama terkait pembebasan lahan.
“Ini membuat pembangunan infrastruktur listrik berjalan jauh lebih lambat dibanding pengembangan pembangkit EBT,” ujarnya.
Dampak integrasi EBT tanpa penguatan jaringan, lanjut Ibnu, berisiko menurunkan kualitas tegangan, memicu kelebihan beban, hingga menyebabkan pemadaman lokal. Infrastruktur transmisi juga dinilai belum didukung teknologi digital modern seperti wide-area monitoring dan sensor pintar yang dibutuhkan untuk mengelola karakteristik pembangkit EBT.
“Kesenjangan kapasitas semakin melebar. Jika tidak segera diatasi, kita akan menghadapi tantangan logistik energi yang serius,” kata Ibnu.
Rekomendasi AEPS2 Center ITPLN
Untuk mengatasi persoalan tersebut, AEPS2 Center ITPLN menawarkan sejumlah solusi strategis. Pertama, desain teknologi penyimpanan energi melalui integrasi battery energy storage system (BESS) guna mengatasi sifat intermiten PLTS dan PLTB, menjaga stabilitas frekuensi, serta menyediakan layanan pendukung sistem.
Kedua, perencanaan sistem tenaga yang fleksibel melalui pengembangan smart grid, demand response, serta kontrol inverter canggih berbasis grid-forming untuk meningkatkan keandalan jaringan.
Ketiga, perencanaan energi terintegrasi untuk mengoptimalkan investasi dan ekspansi jaringan agar mampu mendukung EBT skala besar dengan biaya efisien.
Keempat, pengembangan teknologi konversi daya lanjutan seperti voltage source converter (VSC), modular multilevel converter (MMC), dan sistem back-to-back untuk integrasi EBT, interkoneksi sistem, serta aplikasi industri dan kelautan.
Terakhir, penguatan sektor advisory,
Comments 0