Foto: dok. PLN
KOSADATA – Lonjakan harga minyak global dinilai menjadi ancaman serius bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) disebut bisa menjadi “rem darurat” untuk menahan tekanan tersebut.
Pengamat otomotif, Martinus Pasaribu menilai, kendaraan listrik merupakan solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. Menurut dia, peralihan ke kendaraan listrik tidak hanya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga mengurangi beban subsidi energi yang selama ini membengkak.
“kendaraan listrik mampu menekan impor dan subsidi BBM, yang sebagian besar selama ini diserap sektor transportasi,” ujar Martinus seperti dilansir Antara, Senin, 30 Maret 2026.
Dari sisi biaya operasional, kendaraan listrik juga jauh lebih efisien. Ia menjelaskan, biaya energi kendaraan listrik berkisar Rp300 hingga Rp500 per kilometer. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang bisa mencapai Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilometer, tergantung jenis kendaraan dan harga BBM.
Dengan selisih tersebut, pengguna kendaraan listrik berpotensi menghemat biaya operasional hingga 60–70 persen.
Martinus memperkirakan, jika terdapat 1 juta mobil listrik dan 5 juta motor listrik di Indonesia, penghematan BBM bisa mencapai sekitar 3 juta kiloliter per tahun. Rinciannya, 1 juta mobil listrik dapat menghemat 1,25 juta kiloliter BBM, sementara 5 juta motor listrik menghemat hingga 1,75 juta kiloliter.
“Penghematan ini setara dengan pengurangan impor minyak dalam jumlah signifikan,” katanya.
Dengan asumsi harga minyak global berada di kisaran 90–100 dolar AS per barel, pengurangan impor tersebut berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp30–40 triliun per tahun.
Tak hanya itu, penurunan konsumsi BBM
Comments 0