Fransiscus Go. Foto: Ist
Persoalan lain yang dihadapi dunia pendidikan, adalah akses pendidikan yang masih terbatas. Kondisi ini membuat banyak anak Indonesia yang belum mendapat akses pendidikan yang layak. Pendidikan yang belum merata tersebut dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah pelosok, terpencil dan pedalaman.
Ketimpangan pendidikan antara perkotaan dan pedesaan masih terjadi. Umumnya, kualitas pendidikan di perkotaan lebih baik dari pada di pedesaan. Akibatnya, anak di pedesaan terutama dari keluarga miskin seringkali mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan yang berkualitas.
Minimnya infrastruktur pendidikan dan tidak adanya fasilitas yang cukup untuk menunjang proses pembelajaran juga menambah faktor penyebab rendahnya pendidikan di Indonesia. Belum lagi ditambah akses sekolah yang sulit, membuat anak-anak di daerah pedalaman terpaksa harus putus sekolah.
Kondisi Pendidikan di NTT
Kondisi tersebut diatas, terjadi di sejumlah daerah. Salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Terlebih, NTT merupakan salah satu provinsi dengan mutu pendidikan terendah di Indonesia. Data di Badan Pusat Statistik (BPS) NTT menunjukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang salah satu indikatornya terkait pendidikan, NTT berada di urutan ke 32 dari total 34 provinsi. Dengan angka 63,13 IPM, NTT terpaut cukup jauh dibawah angka rata-rata nasional sebesar 70,18. NTT hanya bisa mengguli Provinsi Papua dan Papua Barat.
Di NTT khususnya di pedalaman, masih banyak pendidikan yang diselenggarakan ala kadarnya dengan sarana pembelajaran yang minim. Pendidikan di NTT masih jauh dari harapan. Bahkan bisa dibilang masih sangat memprihatinkan, fasilitas pendidikan jauh dari kata layak.
Salah satunya, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT.
Comments 0