Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mencoba layanan immersif di Perpustakaan Jakarta. Foto: dok. Pemprov DKI Jakarta
Tidak sedikit anak-anak yang datang bersama orang tuanya tampak enggan pulang. Beberapa di antaranya asyik memainkan game yang mengajarkan kosa kata baru, sementara lainnya larut dalam tayangan immersive 360 tentang sejarah sastra Indonesia, yang dikemas seperti film dokumenter futuristik.
Pramono tak lupa memberi pesan agar fasilitas yang tersedia secara gratis ini dijaga dan dirawat bersama. Ia juga mendorong agar layanan ini disosialisasikan secara luas, terutama kepada anak-anak yang sedang libur sekolah.
“Anak-anak tidak perlu jauh-jauh mencari aktivitas. Mereka bisa ke sini, dan belajar sambil bermain,” tegasnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menjelaskan bahwa kehadiran layanan immersive ini merupakan bagian dari transformasi perpustakaan menjadi ruang publik yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Layanan ini memperluas akses literasi, bukan hanya lewat koleksi buku, tapi melalui pengalaman. Kita ingin masyarakat, terutama generasi muda, melihat perpustakaan sebagai tempat yang hidup dan menyenangkan,” ujarnya.
Nasruddin menambahkan, layanan immersive yang mulai dikembangkan sejak 2024 ini akan terus ditingkatkan. Harapannya, ekosistem literasi digital Jakarta bisa tumbuh menjadi lebih dinamis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat yang ingin merasakan langsung layanan ini, studio immersive dibuka setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu, dengan empat sesi per hari:
10.00–11.00 WIB
11.00–12.00 WIB
14.00–15.00 WIB
15.00–16.00 WIB
Pendaftaran bisa dilakukan lewat aplikasi JakLitera atau situs resmi perpustakaan.jakarta.go.id.
Dengan pengalaman yang seperti ini, mungkin tak lama lagi, anak-anak akan mengenal Chairil Anwar bukan dari buku pelajaran, tapi dari layar yang menyapanya langsung, “Aku ini binatang jalang… kau siap masuk ke puisiku?”***
Comments 0