Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Fiskal Moneter, Kamrussamad
Perbandingan nilai tukar antarnegara menunjukkan posisi rupiah masih tertinggal. Di kawasan ASEAN, 1 Dolar Singapura senilai Rp12.830, 1 Ringgit Malaysia Rp4.048, dan 1 Bath Thailand Rp514. Di tingkat global, 1 Dolar AS setara dengan Rp16.731, sedangkan 1 Euro mencapai Rp19.343.
“Penyederhanaan rupiah akan meningkatkan efisiensi sistem keuangan dan memperkuat kepercayaan publik. Lebih dari itu, Redenominasi adalah simbol perjuangan untuk mensejajarkan rupiah dengan mata uang dunia,” kata Kamrussamad.
Ia menambahkan, nilai mata uang yang lebih sederhana akan menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat ketika bertransaksi internasional dan meningkatkan penghargaan terhadap produk-produk Indonesia di pasar global.
Sejumlah negara telah berhasil melaksanakan Redenominasi, seperti Hungaria, Turki, Ukraina, dan Rumania. Hungaria, misalnya, mengganti mata uang pengo menjadi forint pada 1946 dan berhasil menjaga stabilitasnya hingga kini.
Sebaliknya, negara seperti Brasil, Rusia, Korea Utara, dan Zimbabwe gagal karena lemahnya fondasi ekonomi dan inkonsistensi kebijakan.
“Indonesia harus belajar dari pengalaman tersebut. Redenominasi perlu dijalankan dengan mitigasi risiko yang matang, sosialisasi menyeluruh, dan kesiapan sistem keuangan yang kuat,” jelas Kamrussamad.
Kamrussamad menilai, saat ini merupakan momentum ideal untuk melaksanakan Redenominasi. Ekonomi Indonesia tumbuh stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali di rentang 2,5% ±1, dan nilai tukar rupiah relatif stabil.
“Wacana Redenominasi bukan hal baru. Kajian dan naskah akademiknya sudah ada sejak lebih dari 12 tahun lalu. Pemerintah hanya perlu melanjutkan dan mengeksekusi dengan konsisten,” ujarnya.
Ia menegaskan, keraguan dan sikap maju-mundur pemerintah justru akan menggerus kepercayaan publik. Sebaliknya, langkah tegas untuk menyederhanakan nilai rupiah akan
Comments 0