Diskusi ilmiah dan terbuka merupakan gambaran tradisi Pemuda Persis.
Keempat belas, saya menegaskan kembali bahwa tujuan utama dari kritik ini adalah menjaga kualitas pemikiran agar tetap berada dalam koridor Ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam tradisi Islam, pencarian kebenaran tidak hanya diukur dari niat baik, tetapi juga dari ketepatan metode. Oleh karena itu, penguatan metodologi bukanlah bentuk pembatasan, melainkan upaya memastikan bahwa setiap gagasan yang lahir benar-benar memiliki daya guna dalam menjawab tantangan nyata yang dihadapi oleh umat.
Kelima belas, sebagai penutup, saya memandang bahwa perbedaan ini merupakan kekayaan intelektual yang harus disyukuri. Namun, agar diskursus ini memberikan dampak nyata, diperlukan langkah lanjutan berupa formulasi konsep yang lebih operasional dan berbasis sistem. Dengan demikian, Pemuda Persis tidak hanya unggul dalam wacana, tetapi juga dalam implementasi. Inilah esensi dari al-‘ilm al-nāfi‘ (ilmu yang bermanfaat), yaitu ilmu yang tidak berhenti pada tataran ide, tetapi mampu diwujudkan dalam amal yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan demi kemaslahatan umat.
Ditulis oleh Jajang Hidayatullah, M.Ag., sebagai jawaban atas bantahan tulisan Andri Nurkamal.
Comments 0