|

Weltevreden, Jejak Kolonial di Jantung Jakarta yang Patut Dikunjungi

Admin Kosadata
Dec 30, 2022
0
1 minute

 

KOSADATA - Kawasan Gambir atau Weltevreden menjadi jantung Jakarta yang terus berdetak kencang. Di sinilah, kendali  pemerintahan Indonesia dijalankan. Tapi, di balik kesibukannya, Gambir menyimpan sisa kejayaan Batavia sebagai kota  kolonial   modern  di abad  20. Jejak itu kini masih tersimpan dan  bisa menjadi destinasi alternatif  saat akhir pekan.

Menyusuri Weltevreden pada masa lampau, adalah menyusuri  sejarah yang jejaknya bisa dilihat dari  bangunan-bangunan tua yang ada di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya kini dijadikan sebagai cagar budaya. Sebut saja misalnya, Willemkerk atau Gereja Immanuel,  Gereja Katedral, Indische Woonhuis (Galeri Nasional) dan  Volksraad (Gedung Pancasila).

Sejak 1970an, tempat-tempat tersebut menjadi destinasi bersejarah favorit para turis saat berkunjung ke Jakarta. Salah satunya pelancong dari Belanda. Bahkan hingga saat ini, banyak penyelenggara paket wisata city tour di Jakarta menjadikan kawasan Weltrevreden dalam daftar kunjungan mereka.

Sebelum  pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap ke-dua, Media Jaya mencoba menyusuri sebagian kawasan Weltrevreden. Karena masih masa pandemi COVID-19, beberapa destinasi ada yang tutup. 

Pagi di Lapangan Banteng

Perjalanan menyelusuri  jejak sejarah kota kolonial modern ini  bisa dimulai dari Lapangan Banteng.  Letaknya cukup  strategis. Bisa dijangkau dengan moda transportasi, seperti Transjakarta.

Dalam buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat, Lapangan Banteng disebut dengan Lapangan Singa pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Disebut demikian karena adanya patung berbentuk singa di tengah lapangan saat itu.

Patung singa ini sebenarnya  merupakan tugu peringatan kemenangan perang di Waterloo yang membuat Napoleon Bonaparte kalah,  sehingga Belanda bebas dari pendudukan Prancis pada 1815.

Karena itulah,  selain Lapangan Singa,  nama lain Lapangan Banteng tempo dulu adalah Lapangan Waterlooplein. Biasanya militer Belanda menggunakan lapangan ini untuk parade menunjukkan atraksi kebolehan mereka.

Kini Lapangan Singa atau Waterpooplein ini sudah menjadi taman kota yang asri. Beragam fasilitas tersedia disana. Setiap akhir pekan banyak warga Jakarta yang berolahraga  pagi.  Berbagai aktifitas lain juga bisa dilakukan di lapangan ini. Mulai dari bermain di taman anak, berswa foto, bercengkrama di amphitheater sembari menikmati air mancur hingga  mencari semangat  nasionalisme  dari kutipan para pahlawan yang dipahat di salah satu dinding di lapangan ini.

Gereja Immanuel

Dari taman Lapangan Banteng, tujuan berikutnya adalah  Gereja Immanuel. Dari Lapangan Banteng  Anda bisa berjalan kaki menyusuri Jalan Taman Pejambon ke arah Stasiun Kereta Api Gambir. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya  500 meter.

Gereja Immanuel berada di seberang Stasiun Gambir, di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Bangunannya sangat megah.  Pepohonan yang menjulang tinggi, suasana tenang dan pilar-pilar megah bergaya Eropa klasik menyambut siapa pun yang mengunjungi Gereja Immanuel ini. JH Horst, arsitek gereja ini merancangnya dengan gaya dan corak klasisisme. Lengkap dengan jendela besar khas bangunan Belanda.

Karena masih dalam masa pandemi COVID-19, kegiatan di gereja yang menyimpan  Kitab Suci (Staatenbijbel), cetakan tahun 1748 oleh N Goetzee Belanda ini masih dibatasi. Baik untuk ibadah maupun kunjungan lainnya. Anda harus terlebih dulu meminta izin kepada petugas dan harus benar-benar menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker dan mencuci tangan.

Dahulu, Gereja Immanuel bernama Willemskerk. Nama ini diberikan untuk menghormati Raja Willem I, Raja Belanda pada periode 1813-1840. Semula, Gereja Immanuel hanya untuk para petinggi Hindia Belanda.
 
Saat masuk ke gereja ini, pengunjung seakan dibawa kembali ke era khas klasik mewah tempo dulu. Di bagian lantai dua  terdapat kursi kayu yang melingkar dan sebuah organ pipa tua buatan Jonathan Batz pada tahun 1843 yang masih digunakan untuk mengiringi lagu pujian saat kebaktian.

Karena nilai sejarah Gereja Immanuel yang tinggi, maka gereja ini  ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya lewat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tanggal 29 Maret 1993.

Galeri Nasional

Keluar  dari Gereja Immanuel, Anda akan kembali menemukan jejak kota modern Batavia tempo dulu. Disana ada gedung tua bekas asrama putri Belanda. Kini  bangunan ini di fungsikan sebagai Galeri Nasional ( Galnas).

Selain menawarkan bangunan tua dengan arsitektur yang megah,  Galnas menjadi lokasi favorit untuk berburu foto para instagrammers.  Tempat ini tidak hanya dikunjungi para penikmat seni, tapi juga dari kalangan generasi muda. Disana mereka berfoto dengan nuansa klasik.

Gedung Galnas merupakan bangunan tua berusia ratusan tahun. Gedung  berarsitektur kolonial Belanda ini dibangun pada 1817, dengan memanfaatkan material bekas Kasteel Batavia.  Gedung  ini dipergunakan untuk asrama khusus bagi wanita, sebagai usaha pendidikan yang pertama di Hindia Belanda.

Saat ini, Galeri Nasional menyajikan pameran karya seni anak bangsa. Ada dua jenis pameran di museum ini, yaitu pameran tetap dan kontemporer. Untuk pameran tetap karya seni akan ditampilkan seterusnya di Galnas, sedangkan pameran temporer, temanya akan berganti-ganti.

Gereja Katedral

Dari Galeri Nasional, perjalanan  selanjutnya kembali ke arah Taman Lapangan Banteng. Tapi bukan Lapangan Banteng yang dituju,  melainkan Gereja Katedral Jakarta. Lokasinya berada bersebrangan dengan Taman Lapangan Banteng.

Gereja ini memiliki nama resmi Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming. Sebelum berdiri megah yang tempatnya sekarang, awal Gereja Katedral berada di pojok barat daya Buffelvelt (sekarang menjadi gedung Departemen Agama).

Menurut petugas keamanan  gereja yang ditemui Media Jaya, sebenarnya ada tiga area yang bisa dikunjungi ke  gereja bergaya arsitektur Neo-gotik ini. Yakni area bangunan utama yang memiliki tiga menara yang indah yakni, Menara Angelus Dei, Menara Benteng Daud dan Menara Gading.

Selain bangunan utama, dua lokasi lain yang bisa dikunjungi oleh waisatawan adalah Museum Katedral, dan Goa Maria Katedral. Museum Katedral  berada di samping kiri gereja dan dekat dengan Gua Maria.

Sementara itu, Museum Katedral  menyimpan benda-benda bersejarah yang menceritakan perjalanan gereja. Museum dan gereja terbuka oleh masyarakat umum, walaupun bukan pemeluk agama Katolik. Sejak 1993, bangunan Gereja Katedral ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

Es Krim  Legendaris

Setelah dari Gereja Katedral, perjalanan Anda di kawasan Gambir bisa diakhiri dengan bersantai menikmati es krim legenaris, Ragusa. Es krim racikan dua orang berkebangsaan Italia, Luigi Ragusa dan Vicenzo Ragusa ini sudah ada sejak tahun 1932.

Awalnya mereka berjualan di Pasar Gambir yang menjadi cikal bakal Jakarta Fair. Tapi, sejak 1947 mereka membuka kafe di Citadelweg (sekarang Jalan Veteran I no. 10) dan masih berdiri hingga saat ini.

Nuansa sejarah begitu terasa saat berada di dalam cafe tua ini. Baik dari interior maupun dari  foto-foto yang dipajang di cafe tersebut menunjukan bagaimana es krim ini begitu favorit di jaman penjajahan dulu.

Selain menikmati nuansa tempo dulu, resep es krim juga masih dipertahankan hingga saat ini. Pilihannya beragam. Salah stau yang legendaris adalah spaghetti ice cream . Es krimnya berwarna putih dan disajikan dengan bentuk yang menyerupai spaghetti. Taburan sukade dan kacang di atasnya menambah cita rasa dari es krim legendaris ini dan menjadi penutup yang manis untuk sesi jalan-jalan sejarah kali ini. ***

Simak ulasan KOSADATA lainnya pada Google News.

Related Post

Post a Comment

Comments 0

Trending Post

Latest News