Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari. Foto: ist.
“Yang ketiga, saya juga menyayangkan karena Mas Saiful yang saya kenal adalah ilmuwan politik yang notabene selama ini mengedepankan konsolidasi demokrasi,” beber Qodari.
Ia mengingatkan bahwa dalam berbagai tulisannya, Saiful Mujani kerap menekankan bahwa demokrasi terkonsolidasi ketika masyarakat dan elite politik sepakat menjadikan pemilu sebagai satu-satunya mekanisme pergantian kepemimpinan — “demokrasi is the only game in town”.
“Jadi, Pak Saiful melawan apa yang dia sendiri selama ini canangkan atau dia tulis atau dia percayai,” kata Qodari.
Dalam situasi global yang dinamis saat ini, Qodari menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional dan menghindari narasi yang dapat memicu instabilitas.
“Yang keempat, dalam situasi seperti sekarang ini, situasi global seperti ini tentu yang sangat dibutuhkan oleh bangsa kita adalah persatuan dan kesatuan,” tegasnya.
Ia menilai upaya atau pernyataan yang ingin mengganti kepemimpinan nasional melalui jalur non-demokratis dan non-konstitusional merupakan tindakan yang memanfaatkan kesempitan.
“Upaya-upaya, pernyataan-pernyataan yang mau mengganti kepemimpinan nasional dengan jalur non-demokratis, non-konstitusional, itu adalah upaya-upaya untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan,” tutup Qodari.***
Update terus berita terkini KOSADATA di Google News.
Comments 0