|

Tangani Banjir Jakarta, Pengamat: Selain dengan Pusat, Pemprov DKI Perlu Gandeng Swasta

Eka Putri
Mar 20, 2023
0
1 minute

KOSADATA - Pengamat kebijakan publik GMT Institute Agustinus Tetiro mengapresiasi terobosan kebijakan Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono dalam penanganan banjir. Kerja sama dengan pusat telah menghasilkan solusi yang lebih akseleratif untuk masalah banjir di ibu kota. 

“Pak Heru Budi punya akses dan gaya komunikasi yang bagus sekali dengan pemerintah pusat. Ini hal yang positif untuk bahu-membahu menyelesaikan masalah banjir di Jakarta tahap demi tahap,” kata Gusti, sapaan Agustinus Tetiro, di Jakarta, Senin (20/03/2023).

Kendati demikian, Gusti menyatakan, kerja sama dengan pemerintah pusat saja tidak cukup. Jika ingin lebih akseleratif lagi dalam menangangi banjir di Jakarta, Pemrov DKI perlu membangun kerja sama strategis dengan pihak swasta, terutama yang berkaitan langsung dengan tanggung jawab perusahaan untuk keberlanjuta lingkungan. 

“Kerja sama ini relatif lebih mudah, karena saya yakin Pemprov DKI Jakarta mempunyai relasi yang baik dengan beberapa asosiasi perusahaan atau kelompok pengusaha seperti di Kadin, Himpi dan lain-lain,” jelas Gusti. 

Menurut Gusti, untuk tahap awal Pemprov DKI Jakarta bisa ‘menggugah’ kesadaran perusahaan-perusahaan yang dalam kegiatan operasionalnya bisa langsung membantu pencegahan dan penanganan banjir, seperti perusahaan (penyewaan) alat-alat berat untuk keperluan pengerukan lumpur di sungai, kali dan selokan. Atau, perusahaan-perusahaan produsen kendaraan untuk penyediaan mobil-mobil sampah, dan contoh-contoh lain. 

Gusti yakin, banyak perusahaan swasta akan dengan sukarela membantu. Apalagi saat ini kesadaran tentang lingkungan telah menjadi kesadaran kolektif, terutama di kalangan kamu muda.

“Perusahaan-perusahaan yang board of directors-nya diisi oleh para eksekutif muda pasti paham betul dengan konsep dan aplikasi environment and social governance,” imbuh Gusti.   

Sebagai informasi, Heru Budi Hartono menganggap program pengendalian banjir sebagai salah satu agenda prioritas yang krusial untuk dicarikan solusinya di bawah kepemimpinannya.

Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta terus melakukan berbagai upaya penanganan banjir, khususnya di 12 titik genangan berulang yang kini berhasil diatasi. Sebanyak 100 persen penanganan genangan di 58 titik juga berhasil ditangani kurang dari 6 jam. Sedangkan 85,14 persen penanganan genangan di 212 titik berhasil ditangani kurang dari 2 jam. Hal ini merupakan wujud komitmen dan gerak cepat Pemprov DKI Jakarta dalam menjaga keselamatan warga. 

“Prioritas kami adalah warga. Segala hal yang berdampak langsung dengan warga, baik itu keselamatan, kenyamanan, maupun kemudahan, akan terus kami utamakan. Terkait banjir ini, karena menyangkut keselamatan warga yang juga dipengaruhi oleh faktor alam, kami siapkan berbagai langkah antisipasi hingga penanganan yang cepat dan tuntas,” terang Pj. Gubernur Heru di Balai Kota Jakarta, pada Jumat (17/3), seperti dikutip dari siaran pers PPID DKI Jakarta.

Terkait antisipasi, dilakukan pembangunan saluran penghubung dan kelengkapannya sepanjang 84.984 m; pengerukan waduk/situ/embung, kali/sungai, dan saluran mencapai 116.933,7 m3; pengadaan tanah untuk kali/saluran seluas 48.104 m2; pembangunan 14 waduk dan pengadaan tanah untuk waduk/situ/embung seluas 6.661 m2; pembangunan 9 polder dan 1 pompa; pembangunan tanggul pengaman pantai dan infrastruktur pengendali banjir pesisir pantai di Kali Adem sepanjang 1.526 m; pembangunan pengaman pantai di Pulau Kelapa Sisi Selatan sepanjang 253 m dan Sisi Utara sepanjang 315 m; pengadaan peralatan penyelidikan, pengujian, dan pengukuran, serta pemeliharaan/perbaikan alat berat; dan pembangunan tanggul Kali Semanan sepanjang 1.360 m. 

Selain itu, berbagai strategi penanganan banjir terus diupayakan melalui sinergi dengan berbagai stakeholder terkait, termasuk dengan pemerintah pusat. Sinergi yang dilakukan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung (BBWSC) yaitu dengan membangun sodetan (terowongan) Sungai Ciliwung sepanjang 1,26 kilometer, yang dapat mengalihkan 60 meter kubik per detik air dari Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) di Jakarta Timur. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi 200 hektare dari 600 hektare wilayah terdampak banjir, seperti Kampung Melayu dan Manggarai. Normalisasi Sungai Ciliwung sepanjang 47 kilometer dari total panjang sungai 120 kilometer juga terus dikerjakan sebagai rencana induk sistem pengendali banjir di Jakarta sejak 1973. 

Kemudian pembangunan tanggul pantai National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang dilakukan sinergi dengan Kementerian PUPR untuk mencegah banjir rob dan penurunan muka tanah. NCID akan dibangun dengan total panjang 37,119 km, di mana panjang trase kewenangan DKI sepanjang 19,169 km, dan sisa yang belum dibangun sepanjang 11,112 km. 

Selain itu, juga dilakukan identifikasi titik rawan banjir termasuk kesiapan personil; tindakan preventif melalui peningkatan kapasitas kali/sungai, situ, waduk, embung, dan saluran drainase lingkungan, serta pompa dan polder. Juga mengakselerasi lokasi prioritas Sungai Ciliwung, Krukut, termasuk waduk pengendali banjir; mengakselerasi proses eksekusi pembangunan sarana prasarana pengendalian banjir bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC); meningkatkan peran lurah dalam penanganan sampah di badan air; dan percepatan penyelesaian Proyek 942 yaitu pembangunan 9 polder, 4 waduk, serta 2 sungai/kali besar yang mencapai 79 persen (4 waduk dan 1 sungai telah selesai dibangun). 

Sementara itu, sarana dan prasarana pengendali banjir turut disiagakan, terdiri dari Pompa Stationer (506 unit di 181 lokasi), Pompa Mobile (566 unit), Alat Berat (236 unit), dan Pintu Air (799 unit di 547 lokasi). Alat berat digunakan untuk mengeruk sedimen sampah dan lumpur untuk meningkatkan daya tampung waduk/situ/embung, kali/sungai, saluran dalam program Grebeg Lumpur. 

Segala upaya tersebut membutuhkan partisipasi dan peran aktif warga untuk menjaga lingkungan sekitar dan menerapkan budaya sadar sampah, dengan mengurangi, menggunakan, dan mendaur ulang sampah, mengolah, serta tidak membuang sampah sembarangan, terutama di saluran air. Selain itu, rajin membersihkan saluran air di sekitar rumah, agar tidak terhambat saat musim hujan. Sinergi dengan semua pihak tersebut dilakukan untuk memajukan kota Jakarta yang juga akan berpengaruh terhadap kesuksesan Indonesia, sesuai slogan Pj. Gubernur Heru: Sukses Jakarta Untuk Indonesia.

Related Post

Post a Comment

Comments 0