Ilustrasi sungai Ciliwung. Foto: ist
Transformasi DKJ menjadi Kota Global beralasan dan memiliki bibit, bebet, dan bobot bagus-menyala karena penduduk Jakarta sekitar 10,7 juta jiwa atau 3,9% populasi nasional. Penduduk usia produktif DKJ sekitar 71,27%. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta menjejak Rp3.200 triliun, setara 16,6% share nasional.
Menurut data, Kota Global Jakarta saat ini mencecah peringkat ke-45 dari 48 kota dalam Global Power City Index (GPCI), peringkat ke-152 dari 183 kota dalam Cities Motion Index, peringkat ke-139 dari 173 kota dalam Economic Intelligence Unit (IEU) Livability Index, peringkat ke-69 dari 156 kota dalam Global City Index (GCI). Masih jauh dibandingkan dengan New York, Paris, Singapura, yang selalu peringkat pertama bahkan Hongkong peringkat ke-5.
Komponen Kota Global itu berat, gerakanlah persyaratan karakter ini: aktivitas bisnis, sumberdaya manusia, pertukaran informasi, pengalaman budaya, dan keterlibatan politik.
Walau Kota Global itu berat, biar Jakarta saja. Karena Jakarta Kota Global yang sudah menyala, dan kinerjanya bukan kaleng-keleng tanpa prestasi juara utama. Salah satunya debut Kota Global Jakarta memenangkan penghargaan internasional sebagai kota terbaik di dunia dalam Sustainable Transport Award (STA) 2021. Jakarta menjadi kota pertama di Asia Tenggara memenangkan STA sebagai berkah dari program integrasi antarmoda transportasi publik.
Memperkaya data dan analisa, tengoklah pemeringkatan BPS ini: Jakarta menyabet indeks Pembangunan Manusia Tertinggi 2020, Indeks Demokrasi Tertinggi 2017-2020. Jakarta juga berprestasi dalam hal: Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Terbaik 2020 (Kemenaker), Kota Peduli HAM 2020 (Kemenkumham), Provinsi Peduli Anak 2020 (KPAI), Harmony Award 2020 (Kemenag), Innovative Government Award 2020 (Kemendagri), Anugerah Keterbukaan Informasi Publik
Comments 0